LAURA DRESS

Untuk kakak kakak yang suka dress simple ,Laura dresa cocok banget ini untuk kegiatan sehari hari..mau acara formal atau informal juga bisa.. 😊😊 Laura dress tanpa lengan ini di tambah ikat panggang dengan warna senada ,saku kanan dan kiri dress, untuk hijaber bisa juga dikombinasi dengan kemeja , blazer, hijab nanina scarf.

Saalima Dress

. Saalima dress Dress simple dengan warna warna yang manis Bahan : katun Toyobo Detail baju :• Resleting belakang• Wudhu friendly dengan lengan karet• Bahan jatuh adem halus dan nyaman RP. 200.000

ROSENE ONE SET

ROSENE ONE SET Material : katun linen kombinasi batik bekasiVest + rok Produk ootd terbaru nih, yg lagi suka pake vest wajib banget order ini 😊 😊☺ karakteristik bahan :• tebal medium• tidak nerawang• adem• nyaman dipakai Rp, 395.000.

HANEZA PANTS

HANEZA PANTS Bahan katunRp. 130.000 Bahannya adem, tidak terawang dan nyaman di pakai, bisa dipakai untuk acara formal dan informal Detail size :Panjang 98Lingkar pinggang 96-100.

RAYA SET

RAYA SET(Atasan + celana panjang) bahannya adem banget nyaman, tidak menerawang cocok untuk dipakai daily outfit,😊Pas banget ini untuk acara bukber , atau hari raya Ukuran :M ,L, XL Happy fasting 😊 😊😊 Rp. 325.000

Sulitnya Wanita Berhijab di Era Emansipasi

 



Kebebasan Berpikir; Penggunaan Hijab oleh Perempuan di Lingkungan Sosial
Mengingat perjuangan RA Kartini, saya ingin berbagi pendapat saya tentang perjuangan perempuan modern. Perempuan yang ingin maju tetapi tetap menjaga prinsipnya. Kebayang ya, itu pasti sulit? Sangat mengganggu bagi perempuan yang memilih untuk berhijab atau berjilbab. Perempuan pada dasarnya suka dipuji dan terlihat baik. Kebanyakan dari mereka berusaha untuk memperlihatkan keindahan mereka pada sesama perempuan, bukan untuk menarik lawan jenis. Dalam hal berhias, menunjukkan kelayakan, kesepadanan, dan keinginan untuk berbagi.

Raden Ajeng Kartini sebagai representasi feminisme. Beliau mendukung hak perempuan untuk pendidikan, kebebasan berpikir, dan ruang sosial yang sama. Namun, di tengah semangat emansipasi itu, masih ada pertanyaan yang relevan tentang posisi perempuan berhijab di dunia kerja modern. Apakah mereka benar-benar bebas, atau apakah persepsi dan stigma membatasi mereka?

Kartini tidak hanya mendukung kebebasan fisik tetapi juga kebebasan berpikir, yang melibatkan hak perempuan untuk memilih jalan hidup mereka sendiri.

Pada tahun-tahun awal saya di sekolah, saya sempat berpikir bahwa wanita yang hebat adalah mereka yang berpenampilan modern, elegan, memakai high heels, dan bisa memakai make-up. Sampai akhirnya, takdir membuat saya masuk ke kampus yang mewajibkan semua wanita berjilbab. Walaupun saya merasa tidak setuju, saya mencoba berpikir bahwa saya mungkin diberitahu bahwa pemikiran itu salah dan mencoba mencari perspektif lain.

Hijab Menunjukkan Komitmen, Prinsip, dan Karakter.

Perempuan yang memakai jilbab atau hijab seringkali menghadapi berbagai macam hambatan. Bukan lagi larangan belajar, tetapi lebih kepada stigmatisasi sosial di tempat kerja. Sebagian orang percaya bahwa perempuan berhijab tidak fleksibel, terlalu konservatif, atau tidak cocok untuk posisi tertentu, terutama bagi mereka yang menginginkan penampilan yang "modern".

Sejujurnya, saat saya mencoba mendapatkan pekerjaan, saya pernah diminta untuk menghindari memakai seragam keagamaan, khususnya jilbab, saat saya bekerja. Sebenarnya, ada beberapa bisnis (kantoran) di Indonesia yang mewajibkan wanita berjilbab karena menganggapnya membatasi. Namun, memiliki bekal yang cukup untuk kuliah membuat saya mundur karena tidak setuju dengan prinsip. Saya kesal karena sangat diskriminatif bagi wanita berjilbab.

Percayalah bahwa pekerjaan yang bertentangan dengan moralitas dan nilai yang sudah dipegang tidak akan berdampak positif pada masa depan kita. Sebenarnya, ada banyak bisnis yang lebih terbuka dan menghormati perempuan berjilbab selama mereka dapat melakukannya.

Sebenarnya, hijab adalah pilihan identitas dan nilai. Ia tidak membatasi produktivitas atau kompetensi. Banyak perempuan berhijab yang sukses dalam berbagai bidang, seperti profesional, akademisi, pengusaha, hingga pemimpin perusahaan. Selain itu, memakai hijab dapat membuat seorang wanita terlihat lebih berkelas, anggun, dan berprinsip.

Dalam situasi ini, semangat Kartini tetap hidup, mengklaim bahwa perempuan memiliki hak untuk memilih jalan hidup mereka sendiri, termasuk memilih untuk berhijab tanpa kehilangan kesempatan.

Bukan hijab itu sendiri yang menjadi masalah; itu adalah cara masyarakat melihat hijab dan tempat kerja. Ketidakadilan terjadi ketika perusahaan hanya melihat bagaimana seseorang terlihat. Meskipun demikian, dunia kerja kontemporer seharusnya bergerak menuju inklusivitas yang menghargai keberagaman, termasuk keyakinan dan cara berpakaian.

Di titik ini, refleksi tentang perjuangan Kartini menjadi penting karena kebebasan sejati memerlukan keberanian untuk tetap menjadi diri sendiri, bukan hanya untuk diterima orang lain.


















Membangun Identitas Melalui Hijab

 


Hari-hari ini, dunia kerja tidak baik-baik saja. Karena jumlah lulusan baru tidak sebanding dengan lowongan yang tersedia, persaingan semakin "berdarah-darah". Fenomena ini menimbulkan kecemasan nyata karena hanya mereka yang siap yang akan menang, dan mereka yang pasif hanya akan menjadi penonton di lapangan ekonomi. Menghadapi ancaman pengangguran, mahasiswa sekarang diminta untuk bergerak maju dan menciptakan peluang sendiri daripada hanya menunggu panggilan kerja yang tidak pasti.

Di sinilah terjadi pergeseran paradigma yang menarik: siswa mulai berubah menjadi pencipta pekerjaan. Industri hijab lokal adalah salah satu jalur primadonanya. Namun demikian, modal besar seringkali menjadi penghalang yang menghalangi ide dari awal. Strategi relabeling muncul sebagai "jalan pintas" yang cerdas dan efektif bagi wirausaha muda.

Relabeling memungkinkan siswa menemukan penjahit, membeli mesin manufaktur yang mahal, atau menghindari proses produksi yang kompleks. Mereka dapat segera beralih ke aspek strategis, seperti membangun identitas merek (branding), mengurasi produk berkualitas tinggi, dan meningkatkan kemampuan manajemen operasional, daripada terlalu sibuk memikirkan teknis pabrikasi. Salah satu hijab polos di pasar grosir dapat diubah menjadi produk eksklusif yang memiliki "jiwa" dan nilai jual tinggi untuk Gen Z dengan sentuhan kreatif dan kepekaan tren.

Namun, bisnis ini lebih dari sekedar menampilkan gaya yang menarik di Instagram atau viral sesaat. Keberlanjutannya bergantung pada integritas etika dan disiplin keuangan yang ketat. Mahasiswa wajib jujur tentang spesifikasi bahan untuk membangun loyalitas pelanggan dan harus jeli menghitung margin keuntungan agar bisnis tetap sehat. Sebelum mendapatkan ijazah, mahasiswa dapat menggunakan ini sebagai laboratorium nyata untuk melatih kemampuan keras dan halus profesional.

Singkatnya, relabeling bisnis bukan lagi sekadar cara untuk menghasilkan uang. Ini adalah langkah yang berani untuk mulai memiliki uang sendiri lebih awal. Dengan mengenakan hijab, mahasiswa membangun dasar karier yang teguh, membuktikan bahwa kecerdasan strategis dan inovasi adalah kunci untuk menghadapi masa depan yang tidak pasti setelah kuliah.













Seragam Tanpa Hijab Menimbulkan Polemik, DPR Mengusulkan Panggilan RS Siloam

 


Di RS Siloam TB Simatupang, tuduhan diskriminasi terhadap karyawan muslimah muncul. Yanuar Arif Wibowo, anggota Komisi XIII DPR RI, menemukan bahwa ada indikasi kuat bahwa penggunaan hijab dilarang di lingkungan kerja rumah sakit tersebut.

Yanuar mengungkapkan selama kunjungan kerjanya pada hari Selasa, 14 April 2026, bahwa praktik di lapangan tidak memiliki larangan tertulis. "Ini bukan sekadar soal seragam; ini menyangkut hak asasi manusia. Seragam kerja yang tidak memberikan opsi hijab dianggap sebagai bentuk tekanan terselubung terhadap karyawan. Yanuar tegas bahwa membatasi sama saja jika tidak difasilitasi.

Yang paling menonjol, menurut Yanuar, adalah fakta bahwa karyawan terpaksa melepas hijab saat bekerja dan kembali mengenakannya setelah pulang. Kita mendengar mereka berangkat dengan hijab, dan sampai lokasi dilepas, mereka kembali dengan hijab yang sama. Dia menyatakan bahwa ini adalah jenis tekanan yang tidak dapat dibenarkan.

Menurut Yanuar, kondisi tersebut menunjukkan bahwa karyawan takut akan sanksi dari manajemen dan tekanan. Tidak ada larangan untuk berhijab, menurut pihak rumah sakit sebelumnya. DPR, bagaimanapun, menganggap pernyataan tersebut tidak cukup.

Dia menyatakan, "Jika hijab tidak dilarang, mana seragam yang memungkinkannya? Tidak ada. Ini jelas masalah."

Haryo, perwakilan rumah sakit, belum dapat membuat keputusan dalam pertemuan tersebut karena menunggu instruksi dari pimpinan. Pada hari Rabu, 15 April 2026, pihak tersebut berjanji untuk memberikan penjelasan resmi.

DPR, bagaimanapun, meminta pernyataan resmi segera diberikan kepada seluruh karyawan.

DPR Mengancam

Yanuar menyatakan bahwa dia akan membawa masalah ini ke DPR jika tidak ada tindakan konkret dalam waktu dekat.

Kami akan menghubungi manajemen jika tidak ada tanggapan. Ini berpotensi melanggar undang-undang ketenagakerjaan dan hak asasi manusia, tegasnya. *(**)












Hijab sebagai Trend Anak Muda Modern



 Pada awalnya digunakan sebagai simbo keagamaan dan kultural, hijab sekarang menjadi bagian dari gaya hidup dan tren fashion di kalangan remaja. Cara generasi muda melihat dan mengenakan hijab telah mengalami perubahan besar dalam beberapa dekade terakhir, terutama di negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim seperti Indonesia.

1. Mengubah Persepsi Mengenai Hijab
Hijab sering dianggap sebagai kewajiban religius yang biasa dan tidak kontemporer di masa lalu. Namun, hijab kini dipandang sebagai bagian penting dari identitas dan ekspresi diri karena munculnya desainer hijab yang inovatif dan didukung oleh media sosial. Anak-anak muda saat ini memiliki kebebasan yang lebih besar untuk mencoba berbagai gaya hijab yang sesuai dengan kepribadian mereka tanpa mengorbankan prinsip agama mereka.

2. Industri Mode dan Hijab
Industri fashion yang terus berkembang memengaruhi perkembangan hijab sebagai tren mode. Banyak merek besar di seluruh dunia, baik lokal maupun internasional, mulai meluncurkan koleksi pakaian muslim yang modis dan mengikuti tren terbaru. Hijab semakin diperkuat sebagai item fashion yang stylish dan relevan oleh acara mode seperti "Jakarta Modest Fashion Week".

3. Influencer Hijab di Media Sosial
Media sosial sangat berperan dalam mempromosikan hijab di kalangan remaja. Banyak orang mengikuti tren yang dibawa oleh influencer yang mengenakan hijab, atau sering disebut sebagai "hijabers". Mereka membagikan berbagai gaya hijab, mulai dari yang sederhana hingga yang rumit, serta saran tentang cara memadukan hijab dengan pakaian lainnya. Banyak remaja dan wanita muda telah menjadi sumber inspirasi utama dari akun-akun di Instagram, YouTube, dan TikTok yang menawarkan tutorial, fashion, dan gaya hidup yang mendukung hijab.

4. Kecerdasan Kreatif dan Ekspresi Diri
Generasi muda melihat hijab sebagai cara untuk menunjukkan kreativitas mereka selain sebagai kewajiban agama. Hijab menjadi kanvas bagi anak muda untuk menunjukkan identitas dan gaya pribadi mereka dengan berbagai jenis bahan, warna, dan cara penggunaan. Beberapa bahkan berhasil menciptakan tren baru dengan menggabungkan elemen tradisional dan modern dalam pakaian mereka.

5. Syarat dan Kritik
Meskipun hijab semakin populer, mereka juga menghadapi masalah dan kritik. Beberapa orang berpendapat bahwa makna religius dari hijab dapat diabaikan oleh tren hijab yang semakin populer. Banyak hijabers, bagaimanapun, mengatakan bahwa hijab masih merupakan simbol iman dan bahwa menjaga keseimbangan antara nilai-nilai agama dan fashion sangat penting. 

Hasil
Hijab sekarang lebih dari sekadar kewajiban religius. Hijab dianggap oleh anak muda sebagai simbol identitas, kreativitas, dan mode yang terus berubah. Sepertinya tren hijab akan terus berkembang dan semakin diterima di berbagai kalangan berkat dukungan dari industri fashion dan media sosial. Hijab adalah simbol gaya hidup yang penuh makna bagi generasi muda.

Ketika Nilai Hijab Tergeser Dengan Hijab Tanpa Peniti

 


Hijab adalah identitas seorang muslimah yang lebih dari sekedar penutup kepala. Karena mayoritas penduduknya adalah Muslim, wanita Indonesia sering mengenakan hijab. Wanita berhijab mudah ditemukan di tempat umum. Kaum muda sangat menyukai gaya berhijab. Mereka mencari tutorial hijab di media sosial untuk terlihat menawan. Wanita ingin tampil menonjol saat menghadiri acara tertentu, seperti lebaran, wisuda, dan kondangan, antara lain.

Hijab mengalami berbagai bentuk dan gaya seiring perkembangan zaman. Jenis hijab beragam, mulai dari bergo (instan), kerudung segi empat, hingga pashmina yang terbuat dari berbagai bahan. Pasmina sangat populer karena banyak gaya dan mudah dibentuk. Pasmina tanpa peniti atau pentul muncul sebagai tren fashion baru untuk menekankan kepraktisan dan tampilan visual. Tren ini harus diperhatikan karena dapat menghilangkan tujuan utama hijab.

Trend hijab tanpa peniti


Hijab tanpa peniti atau pentul dianggap sebagai simbol kemudahan berbusana dan semakin populer. Dengan berkembangnya media sosial, masyarakat semakin mengenal tren ini. Kampanye ini disebarkan oleh influencer hingga merek hijab dan media sosial. Tujuan hijab adalah untuk menjaga aurat wanita. Namun, jika model hijab tidak memiliki peniti, dikhawatirkan leher akan terbuka. Meskipun leher juga merupakan bagian tubuh yang harus ditutupi. Karena kain hijab mudah tertiup angin, tidak hanya leher tetapi juga telinga akan terumbar.

Generasi muda menyukai hijab tanpa peniti.


Karena terlihat sederhana, kaum muda mendominasi hijab tanpa peniti. Banyak orang memilih hijab tanpa pentul karena praktis dan hemat waktu. Selain itu, kaum perempuan dapat menemukan tutorial hijab tanpa peniti yang dibuat oleh influencer. Fokus utama dari model hijab tanpa peniti adalah nilai estetika. Bayangkan pasmina tanpa alat bantu seperti jarum atau peniti. Memang terlihat anggun, tetapi orang takut kaum muslimah akan terjerumus jika itu dilakukan terus terang. Banyak model hijab saat ini tidak menutup dada dan membiarkan leher dan telinga tersingkap.

Berhijab dengan cara yang sesuai dengan ajaran agama


Hijab pada dasarnya merupakan kewajiban muslimah yang tercatat dalam al-Quran dan bukan hanya aksesori kepala. Islam menetapkan aturan untuk menutupi aurat wanita. Hijab bukan hanya untuk menutupi rambut.
Karena anggapan bahwa fesyen itu dinamis, publik tanpa disadari telah menormalkan perkembangan hijab tanpa jarum. Namun, inovasi tidak perlu menghilangkan esensi hijab itu sendiri. Tren ini mungkin membuat orang percaya bahwa hijab hanyalah bagian dari fashion dan bukan lagi simbol keyakinan dan nilai pribadi. Hijab berisiko kehilangan maknanya dan hanya menjadi trend yang silih berganti jika dibiarkan.

Sebagai kaum muslimah yang taat pada agama, mari kita memperbaiki gaya berpakaian dan berhijab kita agar sesuai dengan anjuran agama. Menggunakan jarum di leher dan hijab menutup dada tidak sulit. Kitab suci juga mencatat cara berpakaian yang sesuai dengan syariat agama.

Inovasi dalam dunia fesyen memang tidak dapat dihindari, tetapi tidak boleh mengorbankan prinsip dasar hijab. Agar hijab tetap menjadi identitas wanita yang beragama, kaum muslimah harus bersikap lebih kritis dan bijak dalam menyikapi tren.


























Azra Outer

 






Azra Outer
Outer batik modern dengan sentuhan unik kombinasi motif bunga dan lurik , didesing dengan potongan loose yang nyaman dan bukaan depan tanpa kancing untuk tampilan casual mauoun semi formal, terdapat dua saku depan dengan motif berbeda yang menambah kesan stylish.

Detail Size

LD 98
Panjang baju 70
Panjang lengan 55

IDR 350K







Lalita Outer

 



LALITA OUTER

Outer Batik Modern dengan model kimono, memiliki perpaduan motif kotak kotakdan bunga pada bagian badan dikombinasikan dengan lurik, di lengkapi tali di ikat disamping cocok untuk tampilan etnik elegan dan rapih.

Detail size 
LD 98
panjang  baju 70

IDR 285K