Hijab adalah identitas seorang muslimah yang lebih dari sekedar penutup kepala. Karena mayoritas penduduknya adalah Muslim, wanita Indonesia sering mengenakan hijab. Wanita berhijab mudah ditemukan di tempat umum. Kaum muda sangat menyukai gaya berhijab. Mereka mencari tutorial hijab di media sosial untuk terlihat menawan. Wanita ingin tampil menonjol saat menghadiri acara tertentu, seperti lebaran, wisuda, dan kondangan, antara lain.
Hijab mengalami berbagai bentuk dan gaya seiring perkembangan zaman. Jenis hijab beragam, mulai dari bergo (instan), kerudung segi empat, hingga pashmina yang terbuat dari berbagai bahan. Pasmina sangat populer karena banyak gaya dan mudah dibentuk. Pasmina tanpa peniti atau pentul muncul sebagai tren fashion baru untuk menekankan kepraktisan dan tampilan visual. Tren ini harus diperhatikan karena dapat menghilangkan tujuan utama hijab.
Trend hijab tanpa peniti
Hijab tanpa peniti atau pentul dianggap sebagai simbol kemudahan berbusana dan semakin populer. Dengan berkembangnya media sosial, masyarakat semakin mengenal tren ini. Kampanye ini disebarkan oleh influencer hingga merek hijab dan media sosial. Tujuan hijab adalah untuk menjaga aurat wanita. Namun, jika model hijab tidak memiliki peniti, dikhawatirkan leher akan terbuka. Meskipun leher juga merupakan bagian tubuh yang harus ditutupi. Karena kain hijab mudah tertiup angin, tidak hanya leher tetapi juga telinga akan terumbar.
Generasi muda menyukai hijab tanpa peniti.
Berhijab dengan cara yang sesuai dengan ajaran agama
Hijab pada dasarnya merupakan kewajiban muslimah yang tercatat dalam al-Quran dan bukan hanya aksesori kepala. Islam menetapkan aturan untuk menutupi aurat wanita. Hijab bukan hanya untuk menutupi rambut.
Karena anggapan bahwa fesyen itu dinamis, publik tanpa disadari telah menormalkan perkembangan hijab tanpa jarum. Namun, inovasi tidak perlu menghilangkan esensi hijab itu sendiri. Tren ini mungkin membuat orang percaya bahwa hijab hanyalah bagian dari fashion dan bukan lagi simbol keyakinan dan nilai pribadi. Hijab berisiko kehilangan maknanya dan hanya menjadi trend yang silih berganti jika dibiarkan.
Sebagai kaum muslimah yang taat pada agama, mari kita memperbaiki gaya berpakaian dan berhijab kita agar sesuai dengan anjuran agama. Menggunakan jarum di leher dan hijab menutup dada tidak sulit. Kitab suci juga mencatat cara berpakaian yang sesuai dengan syariat agama.
Inovasi dalam dunia fesyen memang tidak dapat dihindari, tetapi tidak boleh mengorbankan prinsip dasar hijab. Agar hijab tetap menjadi identitas wanita yang beragama, kaum muslimah harus bersikap lebih kritis dan bijak dalam menyikapi tren.






0 Comments:
Posting Komentar