LAURA DRESS

Untuk kakak kakak yang suka dress simple ,Laura dresa cocok banget ini untuk kegiatan sehari hari..mau acara formal atau informal juga bisa.. 😊😊 Laura dress tanpa lengan ini di tambah ikat panggang dengan warna senada ,saku kanan dan kiri dress, untuk hijaber bisa juga dikombinasi dengan kemeja , blazer, hijab nanina scarf.

Saalima Dress

. Saalima dress Dress simple dengan warna warna yang manis Bahan : katun Toyobo Detail baju :• Resleting belakang• Wudhu friendly dengan lengan karet• Bahan jatuh adem halus dan nyaman RP. 200.000

ROSENE ONE SET

ROSENE ONE SET Material : katun linen kombinasi batik bekasiVest + rok Produk ootd terbaru nih, yg lagi suka pake vest wajib banget order ini 😊 😊☺ karakteristik bahan :• tebal medium• tidak nerawang• adem• nyaman dipakai Rp, 395.000.

OUTER KIM

HANEZA PANTS Bahan katunRp. 130.000 Bahannya adem, tidak terawang dan nyaman di pakai, bisa dipakai untuk acara formal dan informal Detail size :Panjang 98Lingkar pinggang 96-100.

RAYA SET

RAYA SET(Atasan + celana panjang) bahannya adem banget nyaman, tidak menerawang cocok untuk dipakai daily outfit,😊Pas banget ini untuk acara bukber , atau hari raya Ukuran :M ,L, XL Happy fasting 😊 😊😊 Rp. 325.000

Kenapa Negara Muslim ini melarang Idul Adha, Idul Fitri, dan mengenakan hijab?


Muslim Tajikistan melarang perayaan Idul Adha, Idul Fitri, dan memakai jilbab.
Larangan tersebut dilakukan oleh Tajikistan, sebuah negara di Asia Tengah yang berbatasan dengan Uzbekistan di barat, Kirgistan di utara, Cina di timur, dan Afghanistan di selatan.

Tajikistan, di mana 96% orang beragama Muslim, adalah contohnya.
Sejak tahun 2024, Presiden Emomali Rahmon Tajikistan melarang wanita mengenakan pakaian asing, seperti jilbab atau kerudung.

Dalam Al Qur'an, surat Al-Ahsab, ayat 59, dijelaskan bahwa kaum wanita harus mengenakan jilbab, yang mencakup seluruh tubuh mereka, mulai dari kepala hingga kaki. Undang-undang menetapkan sangsi sebesar 57.600 somoni (Rp 88,4 juta), 54.000 somoni (Rp 82,9) untuk pejabat pemerintah, dan 7.920 somoni (Rp 12,1) untuk orang biasa.

Itulah sangsi yang dikenakan kepada kaum wanita yang melanggar mengenakan pakaian yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Selain itu, pemerintah melarang warganya untuk merayakan Idul Adha dan Idul Fitri.
Tidak seperti di Indonesia, di mana anak-anak diberi angpao jika mengunjungi saudara mereka. Mereka menerima hadiah.

Pemerintah secara represif melarang kaum pria dan wanita berjenggot.
Meskipun tidak ada undang-undang yang melarang kaum pria untuk berjenggot, penegak hukum sering memaksa orang yang berjenggot untuk dicukur. Mereka dipandang sebagai ekstremis.

10 juta orang Tajikistan.
Presiden Emomali Rahmon menyelesaikan konflik lima tahun dengan TIRP.
Sejak tahun 2009, hijab dilarang di gedung pemerintah, universitas, dan lembaga publik lainnya.
Dengan melarang perayaan Idul Adha dan Idul Fitri, Presiden Emamoli Rahmon menerapkan politik ini.

Note: Pada 10 Zulhijjah, Idul Adha adalah hari raya besar yang mengingat ketaatan dan pengorbanan Nabi Ibrahim AS, yang bersedia menyembelih anaknya, Nabi Ismail AS. Setelah itu, domba menggantikan Nabi Ismail AS. Sejak 2011, ada juga undang-undang yang melarang orang tua menyekolahkan anak-anaknya belajar agama Islam di luar negeri.

1.938 mesjid ditutup dalam jangka waktu satu tahun. diganti dengan kedai teh dan fasilitas kesehatan.
Jilbab berasal dari kata "jalaba" dalam bahasa Arab, yang berarti "membawa" atau "menghimpun".

Hijab di negara Arab-Afrika, carsaf di Turki, abaya di Irak, milayat di Libya, pardeh di Pakistan dan India, dan chador di Iran.

Kata "jilbab" telah dimasukkan ke dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) sebagai akibat dari semakin populernya jilbab di kalangan muslimah perkotaan. Dalam hal Indonesia.

Jilbab adalah kerudung yang dipakai wanita Muslim yang menutupi leher dan kepala hingga dada.

Pada tahun 1983, Menteri Pendidikan Noegroho Notosoesanto berdebat dengan MUI tentang istilah "jilbab", yang masih digunakan sebagai "kerudung".

Noegroho berpendapat bahwa kerudung harus sama bagi semua orang, karena jika tidak sama berarti bukan kerudung. Nabi Muhammad SAW tidak menganjurkan istri-istrinya untuk mengenakan hijab sepanjang hari.
Selain itu, sang Nabi tidak memperhatikan saran Umar bin Khattab agar istri-istrinya memakainya.



















Hijab: Antara Kewajiban, Budaya, dan Mode



Salah satu simbol yang paling dekat dengan identitas perempuan Muslim adalah hijab. Hijab adalah kewajiban untuk menjaga kehormatan diri dan menutup aurat dalam ajaran Islam. Namun, seiring berkembangnya zaman, makna hijab tidak lagi dilihat hanya dari perspektif religius. Pada saat ini, hijab telah menjadi bagian dari budaya, gaya hidup, dan bahkan industri fashion yang berkembang pesat. Di era internet saat ini, semakin mudah menemukan gaya hijab melalui media sosial. Banyak publik figur dan influencer menunjukkan berbagai gaya berhijab yang modern dan stylish. Hal ini menyebabkan hijab semakin diterima di banyak orang, terutama di kalangan remaja. Sebaliknya, ada pertanyaan tentang apakah hijab masih dianggap sebagai simbol ketaatan atau lebih banyak merupakan bagian dari tren fashion.

Fenomena ini menunjukkan bahwa hijab memiliki makna yang luas dan berkembang seiring perubahan sosial masyarakat. Akibatnya, memahami hijab tidak hanya sebagai tidak hanya sebagai penutup kepala, tetapi juga sebagai simbol yang memiliki makna agama, budaya, dan ekspresi diri.

Hijab adalah Keharusan

Menurut agama Islam, perempuan Muslim diharuskan untuk menutup aurat mereka dengan hijab. Tujuan dari mengenakan hijab adalah untuk mempertahankan martabat, budi luhur, dan ketaatan kepada Allah SWT. Selain itu, hijab membantu perempuan Muslim mempertahankan identitas mereka di kehidupan sosial dengan mengajarkan prinsip kesederhanaan. Keputusan untuk memakai hijab tidak selalu mudah bagi sebagian perempuan. Setiap orang mengalami proses yang berbeda selama proses belajar, penyesuaian, dan perjalanan hijrah. Namun, banyak perempuan yang menggunakan hijab karena merasa lebih dekat dengan nilai-nilai spiritual dalam hidupnya dan merasa lebih nyaman dan percaya diri.

Namun, pemahaman tentang hijab juga sering dipengaruhi oleh lingkungan. Tidak sedikit perempuan yang mengalami tekanan sosial terkait berpakaian, baik dari keluarga maupun masyarakat mereka. Oleh karena itu, sangat penting untuk memahami bahwa hijab seharusnya berasal dari kesadaran pribadi daripada tuntutan sosial.

Hijab dalam Budaya

Hijab telah menjadi bagian dari budaya Muslim di berbagai negara selain menjadi aturan agama. Setiap daerah memiliki model, warna, dan cara memakai hijab. Misalnya, hijab sering digunakan bersama dengan elemen budaya lokal di Indonesia, yang menghasilkan gaya yang unik dan beragam. Semakin berkembangnya budaya berhijab menunjukkan bahwa hijab tidak kaku. Hijab tetap dapat berubah sesuai dengan zaman tanpa kehilangan kesopanannya. Hal ini terlihat dari munculnya komunitas hijab, yang memungkinkan perempuan Muslim untuk berbagi inspirasi dan pengalaman satu sama lain.

Selain itu, cara masyarakat melihat wanita berhijab dipengaruhi oleh budaya mereka. Hijab dianggap sebagai simbol identitas Muslimah dan kesalehan di beberapa tempat. Meskipun demikian, hijab masih dipandang dengan stereotip di beberapa lingkungan. Oleh karena itu, penting untuk menumbuhkan rasa saling menghargai terhadap keputusan dan gaya berhijab seseorang.

Hijab sebagai Trend Mode

Hijab mengalami perkembangan signifikan dalam dunia fashion dalam beberapa tahun terakhir. Dengan munculnya berbagai merek pakaian muslim, hijab menjadi semakin populer dan diminati banyak orang. Untuk generasi muda, model hijab yang stylish, praktis, dan kontemporer menjadi daya tarik tersendiri. Tren hijab sangat dipengaruhi oleh media sosial. Banyak situs web seperti Instagram, TikTok, dan Pinterest menawarkan inspirasi kreatif untuk gaya berhijab. Influencer yang mengenakan hijab juga berkontribusi pada pembentukan tren fashion muslim yang terus berkembang seiring dengan zaman.

Dengan munculnya mode hijab, perempuan berhijab memiliki lebih banyak pilihan untuk tampil percaya diri. Selain itu, industri fashion muslim memungkinkan banyak peluang bisnis dan mendorong kreativitas anak muda.

Namun, ada kekhawatiran bahwa arti hijab mulai berubah menjadi sekadar statement gaya hidup atau fashion. Ada banyak orang yang lebih memperhatikan penampilan mereka daripada tujuan hijab itu sendiri. Oleh karena itu, penting untuk menjaga keseimbangan antara mempertahankan makna religius dan mengikuti tren.


Hijab memiliki banyak arti, termasuk sebagai bagian dari budaya, kewajiban agama, dan kemajuan dalam mode kontemporer. Ketiga elemen tersebut menunjukkan bahwa hijab terus berubah sesuai dengan perubahan zaman dan dinamika masyarakat. Selama tidak menghilangkan nilai utama hijab, perkembangan mode hijab tidak merugikan. Pada akhirnya, hijab adalah masalah identitas, kesadaran diri, dan bentuk ketaatan. Oleh karena itu, sangat penting bagi perempuan Muslim untuk benar-benar memahami makna hijab agar hijab tidak hanya menjadi tren tetapi juga memiliki manfaat dan nilai dalam kehidupan.





















Sebagian besar pakaian muslim menggunakan polyester

 


Pakaian adalah kebutuhan dasar manusia yang menutupi tubuh dan berfungsi sebagai representasi ekspresi suatu individu atau komunitas, baik organisasi dalam masyarakat maupun ajaran kepercayaan tertentu.Pakaian dan hijab, khususnya untuk wanita, selalu dibutuhkan dan dicari dalam agama islam. Sesuai dengan perintah Al-Qur'an dalam surah Al-Ahzab ayat 59, yang berkata, "Wahai nabi, katakanlah kepada istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka," permintaan untuk produk fashion muslimah telah berkembang lebih dari sekedar tren.. Ini dilakukan untuk membuat mereka lebih mudah dikenal dan menghindari gangguan. Allah juga Maha Pengampun dan Penyayang. Dalam ayat tersebut, kita dapat memahami bahwa hijab adalah cara yang baik untuk menjaga diri kita sendiri dan perintah untuk bertakwa kepada Allah SWT. Jika kita melakukan ini, kita akan menerima ganjaran di surga dan pahala di akhirat.

Karena itu, meningkatnya tren penggunaan hijab muslimah saat ini mendorong banyak produsen pakaian syar'i untuk memenuhi permintaan pasar. Hal ini menjadi peluang besar bagi para produsen bisnis untuk mengoptimalkan keuntungan mereka dengan menekan biaya produksi, tentu saja dengan menggunakan bahan baku yang lebih murah. Berdasarkan temuan dan pengalaman empiris penulis, banyak produsen pakaian menggunakan bahan polyester sebagai bahan baku utama dalam pembuatan produk mereka.

Polyester adalah serat yang dibuat dari plastik limbah, plastik daur ulang, atau plastik lingkungan lainnya. Produsen di seluruh dunia menggunakan bahan ini untuk membuat pakaian yang lebih tahan lama, karena lebih murah per meter, tidak mudah mengkerut, dan mudah kering ketika dicuci.

Produk polyester murni yang dibuat kemudian didistribusikan oleh distributor pakaian dan kemudian didistribusikan ke para penjual pakaian. Banyak penjual pakaian yang enggan menjawab secara jujur ketika ditanya mengenai bahan baku yang mereka pakai ketika berbicara dengan pelanggan mereka, alih-alih mendapatkan keuntungan yang maksimal dari barang laku terjual. Namun, beberapa dari mereka tidak menyertakan deksripsi bahan pakaian yang lengkap pada halaman web e-commerce toko mereka.

Karena pakaian ini tidak menyerap keringat dengan baik, banyak muslimah yang mengeluhkan kegerahan ketika memakainya.Selain itu, banyak perempuan muslimah yang tidak menyadari kelemahan bahan pakaian yang mereka pakai.

Pabrik tekstil pakaian berbahan dasar plastik, seperti polyester dan nilon, mengeluarkan setengah juta ton mikrofiber plastik ke lautan setiap tahun, menyebabkan pencemaran lingkungan, menurut Laporan Ekonomi Tekstil Baru 2017. Plastik yang terkandung dalam pakaian polyester ini juga dapat terurai menjadi potongan-potongan kecil plastik. Serpihan plastik ini dapat menempel pada kulit, tanaman, atau bahkan dihirup, menyebabkan masalah pada sistem pernapasan.

Oleh karena itu, produsen harus menghentikan penggunaan bahan pakaian polyester murni ini agar tidak merusak lingkungan dan menjaga maslahah mursalah dalam upaya menjaga Bumi dan kelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati. Selain itu, hal-hal positif ini dapat berkontribusi pada keuntungan dalam muamalah, yang sesuai dengan prinsip maqashid syariah.

Jika Anda ingin mengurangi presentase polyester, Anda dapat menggabungkannya dengan bahan serat tumbuhan lain yang lebih dominan, seperti linen, untuk membuat pakaian menyerap keringat dengan baik.

Namun, para muslimah tidak perlu khawatir karena bahan-bahan pakaian berkualitas tinggi, seperti katun, linen, tencel, dan rayon, dapat digunakan sebagai referensi saat membeli pakaian. Bahan-bahan ini menjamin bahwa pakaian Anda aman dan tahan lama sepanjang hari.

Oleh karena itu, sangat penting bagi kita sebagai muslimah untuk memeriksa label bahan pakaian dan memilih dengan hati-hati sebelum dan sesudah berbelanja. Semoga rekomendasi ini bermanfaat bagi orang-orang yang beragama Islam dan muslimah dalam melakukan kegiatan sehari-hari.

Terima kasih atas waktu Anda untuk membaca ini.