Sebagian besar pakaian muslim menggunakan polyester

 


Pakaian adalah kebutuhan dasar manusia yang menutupi tubuh dan berfungsi sebagai representasi ekspresi suatu individu atau komunitas, baik organisasi dalam masyarakat maupun ajaran kepercayaan tertentu.Pakaian dan hijab, khususnya untuk wanita, selalu dibutuhkan dan dicari dalam agama islam. Sesuai dengan perintah Al-Qur'an dalam surah Al-Ahzab ayat 59, yang berkata, "Wahai nabi, katakanlah kepada istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka," permintaan untuk produk fashion muslimah telah berkembang lebih dari sekedar tren.. Ini dilakukan untuk membuat mereka lebih mudah dikenal dan menghindari gangguan. Allah juga Maha Pengampun dan Penyayang. Dalam ayat tersebut, kita dapat memahami bahwa hijab adalah cara yang baik untuk menjaga diri kita sendiri dan perintah untuk bertakwa kepada Allah SWT. Jika kita melakukan ini, kita akan menerima ganjaran di surga dan pahala di akhirat.

Karena itu, meningkatnya tren penggunaan hijab muslimah saat ini mendorong banyak produsen pakaian syar'i untuk memenuhi permintaan pasar. Hal ini menjadi peluang besar bagi para produsen bisnis untuk mengoptimalkan keuntungan mereka dengan menekan biaya produksi, tentu saja dengan menggunakan bahan baku yang lebih murah. Berdasarkan temuan dan pengalaman empiris penulis, banyak produsen pakaian menggunakan bahan polyester sebagai bahan baku utama dalam pembuatan produk mereka.

Polyester adalah serat yang dibuat dari plastik limbah, plastik daur ulang, atau plastik lingkungan lainnya. Produsen di seluruh dunia menggunakan bahan ini untuk membuat pakaian yang lebih tahan lama, karena lebih murah per meter, tidak mudah mengkerut, dan mudah kering ketika dicuci.

Produk polyester murni yang dibuat kemudian didistribusikan oleh distributor pakaian dan kemudian didistribusikan ke para penjual pakaian. Banyak penjual pakaian yang enggan menjawab secara jujur ketika ditanya mengenai bahan baku yang mereka pakai ketika berbicara dengan pelanggan mereka, alih-alih mendapatkan keuntungan yang maksimal dari barang laku terjual. Namun, beberapa dari mereka tidak menyertakan deksripsi bahan pakaian yang lengkap pada halaman web e-commerce toko mereka.

Karena pakaian ini tidak menyerap keringat dengan baik, banyak muslimah yang mengeluhkan kegerahan ketika memakainya.Selain itu, banyak perempuan muslimah yang tidak menyadari kelemahan bahan pakaian yang mereka pakai.

Pabrik tekstil pakaian berbahan dasar plastik, seperti polyester dan nilon, mengeluarkan setengah juta ton mikrofiber plastik ke lautan setiap tahun, menyebabkan pencemaran lingkungan, menurut Laporan Ekonomi Tekstil Baru 2017. Plastik yang terkandung dalam pakaian polyester ini juga dapat terurai menjadi potongan-potongan kecil plastik. Serpihan plastik ini dapat menempel pada kulit, tanaman, atau bahkan dihirup, menyebabkan masalah pada sistem pernapasan.

Oleh karena itu, produsen harus menghentikan penggunaan bahan pakaian polyester murni ini agar tidak merusak lingkungan dan menjaga maslahah mursalah dalam upaya menjaga Bumi dan kelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati. Selain itu, hal-hal positif ini dapat berkontribusi pada keuntungan dalam muamalah, yang sesuai dengan prinsip maqashid syariah.

Jika Anda ingin mengurangi presentase polyester, Anda dapat menggabungkannya dengan bahan serat tumbuhan lain yang lebih dominan, seperti linen, untuk membuat pakaian menyerap keringat dengan baik.

Namun, para muslimah tidak perlu khawatir karena bahan-bahan pakaian berkualitas tinggi, seperti katun, linen, tencel, dan rayon, dapat digunakan sebagai referensi saat membeli pakaian. Bahan-bahan ini menjamin bahwa pakaian Anda aman dan tahan lama sepanjang hari.

Oleh karena itu, sangat penting bagi kita sebagai muslimah untuk memeriksa label bahan pakaian dan memilih dengan hati-hati sebelum dan sesudah berbelanja. Semoga rekomendasi ini bermanfaat bagi orang-orang yang beragama Islam dan muslimah dalam melakukan kegiatan sehari-hari.

Terima kasih atas waktu Anda untuk membaca ini.
















0 Comments:

Posting Komentar