Fashion muslim telah berkembang dengan sangat cepat di seluruh dunia dalam beberapa dekade terakhir, terutama di Indonesia. Hijab, yang dulunya dianggap sebagai simbol religiusme, sekarang menjadi tren gaya hidup yang lebih kontemporer dan elegan. Namun, di balik pertumbuhan industri fashion ini, muncul pertanyaan yang sangat mendalam tentang makna hijab. Hal ini bertentangan dengan ayat Al-Quran Surat Al-Ahzab ayat 59, karena banyak tren hijab saat ini cenderung lebih menekankan nilai-nilai dasar agama daripada aspek estetika dan tuntutan zaman.
Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, 'Mereka harus menutup seluruh tubuh mereka dengan jilbab.'Itu untuk membuat mereka lebih mudah dikenali dan menghindari gangguan. Allah juga Maha Pengampun dan Penyayang.
Pergeseran fungsi hijab modern adalah masalah utama. Hijab dimaksudkan untuk menutupi perhiasan (zinah) dan bentuk tubuh agar tidak mengundang fitnah secara syariat. Namun, hijab yang hanya berfungsi sebagai perhiasan sering menjadi tren. Beberapa contoh penyimpangan ini adalah penggunaan hijab yang transparan, dihiasi dengan berlebihan, atau model hijab yang sangat ketat yang memperlihatkan lekukan tubuh dan leher. Jika hijab hanya digunakan untuk mengikuti tren kecantikan, pentingnya menjaga kesederhanaan dan kehormatan menjadi kabur. Hijab telah berubah menjadi aksesori kepala dan tidak mengubah gaya berpakaian secara keseluruhan.
Media sosial sangat membantu mempercepat pergeseran ini melalui fenomena influencer fashion. Banyak muslimah mengenakan hijab pendek yang tidak menjulai ke dada karena tekanan untuk selalu tampil unik dan "instagrammable". Industri fashion melihat hijab sebagai barang yang harus terus berubah agar tetap laku di pasar. Akibatnya, nilai dan pengakuan sosial yang "modern" sering mengorbankan standar syariat. Hal ini menyebabkan paradoks, yaitu ketika seseorang merasa telah berhijab sementara sebenarnya mereka telanjang.
Untuk mengatasi fenomena ini, pemahaman filosofi hijab yang benar harus dihidupkan kembali. Pendidikan tidak hanya harus menutup rambut (libasul syuhrat), tetapi juga harus sesuai dengan standar teknis seperti tidak ketat, transparan, dan tidak menyerupai pakaian lawan jenis atau mencolok. Kesadaran individu sangat penting untuk memastikan bahwa Muslimah tidak hanya menjadi objek pasar tetapi juga dapat memfilter tren yang masih ada di dalam agama. Dengan demikian, mode dapat terus menjadi kreatif tanpa mengorbankan prinsip ketuhanan.
Meskipun kritik terhadap mode kontemporer harus diakui, itu tidak berarti bahwa Islam menghalangi kreativitas dan keindahan dalam berbusana. Sebenarnya, jika ditempatkan dengan benar, syariat dan estetika tidak harus saling meniadakan. Dalam Islam, konsep jamal, atau keindahan, sangat dihargai selama tidak melanggar prinsip iffah (menjaga kehormatan) dan tidak mengarah pada konsumsi berlebihan. Industri mode Muslim memiliki banyak kesempatan untuk menghasilkan desain yang inovatif tanpa mengeksploitasi bentuk tubuh, seperti menggunakan teknik potong yang longgar namun tetap elegan atau menggunakan palet warna yang teduh tanpa hiasan yang mencolok. Oleh karena itu, hijab dapat tetap menarik sebagai representasi identitas Muslimah kontemporer yang bijak yang memadukan tanggung jawab ukhrawi dengan tren dunia.
Sebagai kesimpulan, tren hijab modern menghadapi tantangan besar antara mengekspresikan identitas religius atau mengikuti arus perdagangan. Tidak adanya pemahaman yang mendalam tentang aturan syariat dan kekuatan budaya populer biasanya menyebabkan penyimpangan. Menjadi modis adalah hal yang manusiawi, tetapi sebagai seorang Muslimah, syariat harus menjadi dasar berpenampilan. Hijab seharusnya merupakan simbol ketaatan yang memuliakan pemakainya dan bukan sekadar kain yang mengikuti mode.













:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4292873/original/023307300_1673875452-6_Gaya_Hijab_Citra_Kirana_Liburan_di_Eropa_Curi_Perhatian__Minimalis_Serba_Monokrom__3_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4786060/original/014318600_1711510859-Snapinsta.app_434299012_938542177987571_5405781469168732793_n_1080.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4783156/original/025632300_1711334630-Snapinsta.app_432626836_18424202068029576_4314782826863624596_n_1080__1_.jpg)